Pembelajaran Remidi

Seringkali pembelajaran yang telah kita lakukan tidak berjalan sesuai dengan harapan kita.Apa yang telah kita rencanakan tidak dapat kita laksanakan sepenuhnya. Banyak hal yang kita persiapkan tidak kita gunakan.Demikian pula, waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk dimanfaatkan dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan-tujuan pembelajaran (indikator) yang telah kita tuangkan dalam rencana tidak dapat diwujudkan oleh sebagian besar siswa kita. Dalam keadaan demikian tidak mungkin kita memaksakan untuk melanjutkan ke materi pembelajaran berikutnya. Kita tidak dapat mengabaikan kegagalan ini karena ada kemungkinan kompetensi yang kita tuju adalah komptensi prasyarat untuk memasuki materi berikutnya.
Apabila sebagian besar siswa kita belum mencapai kompetensi yang diharapkan seharusnya kita segera mengetahui dan mencari cara agar pesertadidik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Perlu diupayakan agar siswa memperoleh perlakuan tertentu agar memiliki kompetensi yang diharapkan. Sulit bagi siswa untuk dapat memahami materi berikutnya tanpa memiliki kompetensi prasyarat tersebut. Bagaimana cara mengetahui siapa saja peserta didik yang membutuhkan bantuan (remidi) dan bagaimana melakukan perbaikan (remidi) terhadap siswa yang belum mencapai kompetensi yang diharapkan adalah penting untuk kita pahami bersama.
Pembelajaran remidi dilakukan setelah kita mengetahui siapa saja yang gagal mencapai kompetensi dan dimana letak dan sifat kesulitan yang mereka alami. Apakah kesulitan tersebut bersumber pada aspek fisik atau psikis, dari lingkungan, perangkat atau pengelolaan pembelajaran. Identifikasi semacam ini penting untuk mencari solusi pemecahannya.
Sebagai guru, kita dituntut untuk dapat mengetahui letak-letak dan sifat-sifat kesulitan itu, mampu menemukan solusi, dan kemudian menjadi bagian dari solusi itu sendiri. Artinya, kita juga harus mampu melakukan perbaikan yang diperlukan.
Pembelajaran remidi bertujuan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui perlakuan pembelajaran. Pembelajaran remidi sebenarnya merupakan kelanjutan dari pembelajaran biasa di kelas. Hanya saja peserta didik yang masuk kelompok ini adalah peserta didik yang memerlukan pelajaran tambahan. Peserta didik yang dimaksud adalah siswa yang belum tuntas belajar.
Biasanya, setiap sekolah telah menetapkan batas minimal ketuntasan belajar untuk masing-masing mata pelajaran yang mungkin berbeda dengan sekolah lain. Hal ini bergantung kepada tingkat kesulitan mata pelajaran dan tingkat kemampuan peserta didik di sekolah itu. Pada periode tertentu, skor minimal ini harus ditinjau kembali berdasarkan tingkat kemampuan rata-rata siswa di sekolah itu dan standar dari pemerintah. Skor minimal ketuntasan belajar untuk suatu mata pelajaran telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, setiap siswa yang mendapatkan skor sama atau di atas skor minimal maka siswa tersebut dikatakan tuntas dalam belajarnya. Ia tuntas pada kompetensi dasar tertentu pada mata pelajaran tertentu. Peserta didik yang memperoleh skor di bawah skor minimal kita sebut dengan siswa yang belum tuntas belajar. Peserta didik terakhir inilah yang perlu diberi pembelajaran remidi.
Faktor penyebab ketidak tuntasan belajar bervariasi. Mungkin berasal dari dalam diri siswa (fisik, psikis) atau dari luar diri siswa (lingkungan alam, lingkungan belajar, bahan pelajaran, dan kegiatan pembelajaran). Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa yang mengakibatkan ketidak tuntasan dalam belajar pada umumnya beragam. Kesulitan-kesulitan yang dimaksud biasanya disebabkan oleh antara lain:
·      Kemampuan mengingat kurang,
·      Kurang dalam memotivasi diri,
·      Lemah dalam memecahkan masalah,
·      Kurang percaya diri,
·      Sulit berkonsentrasi pada belajarnya, dan sebagainya.
Pembelajaran remidi dimulai dari identifikasi kebutuhan siswa yang menjadi sasaran remidi. Kebutuhan siswa ini dapat diketahui dari analisis kesulitan belajar siswa dalam memahami konsep-konsep tertentu. Berdasarkan analisis kesulitan belajar itu, diberikanlah remidi. Bantuan dapat diberikan kepada siswa berupa perbaikan metode mengajar, perbaikan modul, perbaikan LKS, menyederhanakan konsep, menjelaskan kembali konsep yang masih kabur, dan memperbaiki konsep yang disalah tafsirkan oleh siswa. Informasi-informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan remidi tersebut akan dapat diperoleh melalui kegiatan evaluasi.
Beberapa model pembelajaran remidi:
·     Remidi dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pelajaran sekolah dan digunakan untuk membantu kesulitan belajar terhadap beberapa subyek materi pembelajaran.
·  Remidi dilaksanakan dengan jalan mengambil beberapa siswa yang membutuhkan remidi dari kelas biasa (regular) ke kelas remedial.
·  Remidi dilaksanakan dengan melibatkan beberapa guru (tim). Tim pembelajaran menyiapkan bahan-bahan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar yang mengacu efektivitas belajar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan perbaikan atau remidi menurut Slamet (2001), adalah sebagai berikut:
·      Adanya beberapa peserta didik yang melakukan remedial bersamaan.
·      Tempat yang dipakai untuk perbaikan.
·      Waktu pelaksanaan remidi.
·      Pembimbing perbaikan.
·      Metode untuk perbaikan.
·      Tingkat kesulitan belajar.
Untuk memberikan perbaikan dapat dilakukan melalui bentuk kegiatan-kegiatan berikut:
·  Memberikan buku pelajaran yang relevan dengan tujuan satuan pelajaran yang bersangkutan.
·    Melakukan tutorial teman sebaya, yakni bentuk kegiatan perbaikan yang dilakukan secara individual oleh siswa yang lebih baik prestasinya.
·         Belajar secara berkelompok.
·         Pembelajaran terprogram dengan modul.
·     Mengajarkan kembali bagian materi yang belum dicapai siswa berdasarkan standar ketuntasan minimum.

Terima kasih, semoga bermanfaat :D

Related Posts:

Pengambilan Keputusan dalam Evaluasi

Masih tentang evaluasi nih guys, hehe tepatnya pembahasan di bawah ini tentang pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan adalah hal yang penting juga nih dalam evaluasi pembelajaran. Untuk lebih jelas mengenainya langsung aja guys simak pembahasan berikut.
Pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan antara temuan dengan kriteria yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran atau standar pendidikan pada semua komponen evaluasi, yaitu reaksi, belajar, perilaku, dan hasil. Contoh matriks rancangan pengambilan keputusan:
Komponen
Kriteria
Keputusan
Reaksi
Positif
Program pembelajaran dapat dilanjutkan untuk angkatan berikutnya atau diterapkan pada program pembelajaran yang lain.
Belajar
Life skill dapat dipelajari oleh peserta didik
Perilaku
Ada perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik
Hasil
Life skill telah diterapkan oleh peserta didik
Reaksi
Negatif
Program pembelajaran perlu diperbaiki pada komponen yang masih kurang, seperti materi pembelajaran, kompetensi guru, metode mengajar, dan sebagainya.
Belajar
Peserta didik hanya sedikit yang dapat mempelajari life skill
Perilaku
Peserta didik tidak mengalami
perubahan perilaku yang positif
Hasil
Peserta didik tidak menerapkan life skill dalam kehidupannya

Bagaimana guys, cukup jelas kan? Hehe…
Terima kasih ya atas kunjungannya. Semoga bermanfaat. Salam sejahtera untuk pendidikan Indonesia :D

Related Posts: