Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil
yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat
berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan
hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada
saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara
optimal.
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan
berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu
memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar,
namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna
menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).
Ironisnya di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan
tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana, sikap premanisme yang
dipakai saat masa orientasi siswa (MOS), semakin lunturnya batas moral antara
siswa dengan gurunya, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat dunia
pendidikan dewasa ini semakin terpuruk. Bahkan ada kegalauan lain yang muncul
kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum daripada
memberi reward siswanya. Ada kegundahan lain yang membuncah ketika sosok guru
berbuat asusila terhadap siswanya. Sehingga nyatalah dunia pendidikan saat ini
mengkhawatirkan dalam kemajuan bangsanya.
Dunia
pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar
tentang moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan
dan asusila. Dunia yang seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi
pekerti, dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh
segelintir oknum pendidik (guru) yang tidak bertanggung jawab. Realitas ini
mengandung pesan bahwa dunia guru harus segera melakukan evaluasi ke dalam.
Sepertinya, sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman
dalam memposisikan profesi guru.
Kesimpulannya, kesalahan guru dalam memahami profesinya akan
mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini
telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan
salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan.
Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari
suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga
pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan
dengan cara-cara yang tidak benar.
