Pembelajaran Bermakna


Para ahli berpendapat bahwa abad XXI merupakan abad pengetahuan. Terkait dengan itu, Makaiman Makagiansar mengutarakan bahwa saat ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam belajar dari terminal ke belajar sepanjang hayat atau lifelong learning, learning trough out life, or contiuning education. Pendidikan untuk semua (education for all) yang dicetuskan oleh UNESCO, Bank Internasional, UNICEF dan UNDP (United Nation Development Program) di Dakkar berasumsi bahwa tingkat pendidikan suatu bangsa sangat menentukan bagi masa depannya. Semakin meningkat taraf pendidikan masyarakat, semakin besar kemungkinan bangsa itu akan lebih maju dan lebih berperan dalam persaingan antar bangsa. Pandangan-pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa paradigma kehidupan telah bergeser dari yang semula mengandalkan otot ke arah kekuatan otak. Artinya, kita sebagai pelaku pendidikan perlu untuk selalu meningkatkan kemampuan diri melalui belajar terus menerus tiada henti, menangkap perubahan, menganalisis, dan kemudian mempraktikkannya.
   Pembelajaran  menurut Undang-undang Sisdiknas 2003 adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Kedua batasan mengisyaratkan bahwa apa yang seharusnya dilakukan pendidik adalah membantu peserta didik agar dapat belajar bagaimana belajar. Artinya, tugas pendidik bukanlah menuangkan sejumlah pengetahuan ke dalam otak peserta didik, tetapi pendidik berusaha untuk menyalakan api yang ada dalam otak mereka, sehingga kompetensi yang ada dalam diri mereka, pengetahuan, keterampilan, dan sikap beserta nilai-nilai dapat dikembangkan secara optimal melalui proses pembelajaran bermakna.
Secara konseptual, pembelajaran dikatakan bermakna apabila pembelajaran itu berorientasi pada pemberdayaan potensi diri peserta didik, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif terkait dengan pengetahuan (IQ), aspek afektif terkait dengan perasaan, nilai-nilai, sikap (EI dan SI), aspek psikomotorik terkait dengan keterampilan fisik dan mental (CI), seperti keterampilan membuat suatu produk tertentu, keterampilan mengungkapkan suatu pendapat, dan lain sebagainya.
   Pembelajaran bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna juga merupakan pembelajaran yang menyenangkan, yang memiliki keunggulan dan meraup segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhirnya adalah meningkatkan kemampuan siswa yang akan berdampak pada pencapaian hasil belajar yang maksimal. Pembelajaran yang bermakna adalah suatu kegiatan yang menjadikan siswa belajar,  apa yang dipelajari siswa tersebut harus mengandung arti penting bagi dirinya sehingga menumbuhkan minat dan motivasinya serta bermanfaat dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk mewujudkannya maka penting menghubungkan apa yang akan dipelajari siswa dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki siswa dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
   Seperti itulah pemaparan materi di atas, tentang pembelajaran bermakna. Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang sedang menjalankan perkuliahan pendidikan ataupun bagi rekan guru sebagai referensi ilmu pengetahuan. Terima kasih.
Dan berikutnya akan diberikan pemaparan lanjutan yaitu tentang ciri-ciri pembelajaran bermakna.

Related Posts: