Pembelajaran bermakna akan
membuahkan hasil secara optimal apabila dalam prosesnya pendidik dapat
melakukan hal-hal berikut ini.
1.
Menggunakan berbagai metode yang
relevan dengan kompetensi dasar yang dikembangkan pada saat itu, dengan cara
menciptakan kondisi-kondisi atau pengalaman belajar atau kegiatan belajar yang
memungkinkan peserta didik berkesempatan mengungkapkan potensi dirinya. Contoh
pengalaman belajar yang dapat diciptakan antara lain: bermain peran, bernyanyi,
bercerita, tanya jawab, dan sebagainya. Jadi, tidak tepat jika pendidik hanya
tertarik pada metode ceramah dalam membelajarkan peserta didiknya, karena
peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.
2.
Menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan. Peter Kline mengatakan “learning is most effective when it’s fun”. Belajar
akan lebih efektif apabila kegiatan itu berlangsung secara menyenangkan.
Beberapa hal yang perlu dicermati pendidik agar peserta didik dengan senang
hati mengikuti kegiatan belajar, antara lain: pendidik harus siap secara fisik
dan mental, berusaha menebarkan senyum, tidak perlu menunjukkan kewibawaan
secara berlebihan, bersikap positif terhadap kelebihan dan kekurangan peserta
didik, bersikap adil, menumbuhkan keberanian dan sikap positif peserta didik,
mampu mendengarkan dan menghargai pendapat peserta didik, dan sebagainya.
Suasana belajar yang mencekam akan mematikan kreativitas peserta didik. Otak
kanannya akan mengalami hambatan dalam berkembang.
3.
Memberi motivasi secara terus
menerus. Pendidik perlu menghindari ucapan-ucapan yang menyinggung peserta
didik sehingga mematahkan semangat mereka untuk belajar.
4.
Topik-topik
yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman anak yang relevan.
Pelajaran tidak dipersepsi anak sebagai tugas atau sesuatu yang dipaksakan oleh
guru, melainkan sebagai bagian dari atau sebagai alat yang dibutuhkan dalam
kehidupan anak.
5.
Dalam
proses belajar perlu diprioritaskan kesempatan anak untuk bermain dan
bekerjasama dengan orang lain.
6.
Bahan
pelajaran yang digunakan hendaknya bahan yang konkret
7.
Dalam
menilai hasil belajar siswa, para guru tidak hanya menekankan aspek kognitif
dengan menggunakan tes tulis, tetapi harus mencakup semua domain perilaku anak
yang relevan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian.
Tidak kalah
pentingnya, dari yang telah diuraikan di atas adalah pekerjaan rumah (PR) atau
tugas siswa. Siswa akan termotivasi jika PR dan tugas diberikan dan
ditindaklanjuti dengan cara baik. Temuan penelitian UNESCO mengatakan
“siswa-siswa akan belajar jika pekerjaan rumah ditugaskan secara teratur,
diberi nilai, dikembalikan segera, dan digunakan terutama untuk melatih bahan
yang baru pertama kali disajikan oleh guru di sekolah”. Di sisi
lain, Betty B.Youngs mengatakan “motivation and productivity skyrocket when
students reach their goals”. Motivasi dan daya produktivitas peserta didik
akan meroket ke angkasa apabila mereka mencapai tujuan mereka atau
menyelesaikan apa yang menjadi tugas mereka.
