Ada
tujuh jenis kemampuan awal yang dapat digunakan untuk memudahkan perolehan, pengorganisasian, dan pengungkapan kembali
pengetahuan baru. Ketujuh jenis pengetahuan awal itu adalah sebagai berikut.
1. Pengetahuan
bermakna tak terorganisasi (arbitraly
meaningful knowledge) sebagai tempat mengaitkan pengetahuan hapalan (yang tak
bemakna) untuk memudahkan retensi. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan
yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengetahuan baru yang akan
dipelajari. Pengetahuan ini sangat berguna untuk mengingat hafalan dan pengetahuan yang tak bermakna, yang bertujuan memonic
misalkan “MEJIKU HIBINIU” untuk menghapalkan warna pelangi.
2. Pengetahuan
analogis (analogy knowledge), yang mengaitakan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada
di luar isi yang sedang dibiarakan/dipelajari.
Pengetahuan analogis ini berada di luar konteksisi pengetahuan baru yang sedang dipelajari, namun terdapat kaitan
berikut :
a. Berada pada tingkat keumuman yang sama.
b. Memiliki
kesamaan dalam hal-hal pokok.
c. Contoh-contoh
pengetahuan analogis tidak temasuk dalam contoh-contoh pengetahuan baru. Misalnya pengertahuan baru tentang prinsip penawaran dan
permintaan, maka bisa dianalogikan dengan peminat masuk keperguruan tinggi
dengan daya tamping perguruan tinggi.
Meskipun pengetahuan analogis ini tidak ada kaitan dengan
pengetahuan baru, tetapi sangat bemanfaat untuk mempermudah mencapai
pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
3. Pengetahuan
tingkat yang lebih tinggi (superordinte
knowledge) yang dapat berfungsi sebagai
kerangka kaitan lanjut bagi pengetahuan baru. Gagne menyebutnya sebagai
kapabilitas belajar. Hubungan antar kapabilitas tersebut sebagai
hubungan prasyarat dan syarat. Jadi kapabilitas konsep abstrak sebagai superordinat dari konsep
konkrit, Kapabilitas belajar menurut Gagne dibedakan atas lima bagian yaitu ;
diskriminasi, konsep konkrit, konsep abstrak,
kaidah (rule), dan kaidah tingkat lebih tinggi lagi.
4. Pengetahuan setingkat (coordinate knowledge), yang dapat
memenuhi fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif dan/atau komparatif.
Pengetahuan setingkat ini memiliki tingkat keumuman dan kekhususan yang sama dengan
pengetahuan yang sedang dipelajri. Misalnya, konsep “hewan berkaki ruas”dan
konsep “hewan bertulang belakang”. Kedua
hewan tersebut tidak sama, tetapi keduanya merupakan contoh “hewan”.
Jadi mengaitkan pengetahuan baru yang sedang
dipelajari dengan pengetahuan coordinate yang telah diketahui oleh
pebelajar akan memudahkan perolehan pengetahuan baru tersebut.
5. Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang berfungsi untuk mengkonkritkan pengetahuan
baru atau juga penyediaan contoh-contoh. Ini kebalikan dari pengetahuan
yang lebih tinggi. Ada kesamaan fungsi
dengan pengetahuan pengalaman.
6. Pengetahuan
pengalaman (experienitial
knowledge) yang memiliki
fungsi sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah, yaitu untuk
mengkonkritkan dan menyediakan ontoh-contoh bagi pengetahuan baru. Pengetahuan pengalaman
mengacu kepada ingatan seseorang pada peristiwa-peristiwa atau objek-objek
khusus dan yang tersimpan di dalam experienitial data base (istilah
yang digunakan Reigeluth).
7. Strategi kognitif, yang menyediakan cara-cara
mengolah pengetahuan baru, mulai
dari penyandian, penyimpanan, sampai dengan pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan.
Hal ini berfungsi membantu mekanisme pembuatan hubungan-hubungan antara
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah
dimiliki oleh siswa. Gagne mengemukakan bahwa strategi
kognitif adalah keterampilan lepas-isi (content-free
skill) yang dapat digunakan oleh
seseorang untuk memudahkan perolehan pengetahuan, atau memudahkan pengorganisasian dan pengungkapan pengetahuan yang telah dipelajari.
