1. Student Teams
Achievement Division (STAD)
Pembelajaran tipe STAD ini
merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan
kelompok–kelompok kecil yang heterogen dengan jumlah anggota kelompok 4–5
orang. Diawili dengan penyapaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi,
kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok. Sebelum pembelajaran dimulai
ada beberapa hal yang harus dipersiapkan diantaranya:
a.
Perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang harus
dipersiapkan antara lain, RPP, buku siswa, Lembar Kerja Siswa, dan lain-lain
b.
Membentuk
kelompok
Pembentukan kelompok diusahakan
agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antara
kelompok yang satu dengan yang lain relative homogen, apabila memungkinkan juga
perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin dan latar belakang sosial.
Salah satu cara yang biasa dipakai dalam pembentukan kelompok
berdasarkan prestasi akademik:
1)
Siswa dirangking
terlebih dahulu sesuai denganv kepandaian dalam mata pelajaran tertentu
2)
Siswa dikelompokkan kedalam tiga kategori
yaituv kelompok atas (25 %), kelompok menengah (50 %), dan kelompok
bawah (25 %)
3)
Dari kitiga kelompok
itu dibagi dalam kelompok yang direncanakan secara merata
c.
Pengaturan tempat duduk
Tempat duduk ditata dengan baik
agar tidak menimbulkan kekacauan
d.
Kelompok kerja
Untuk mencegah adanya hambatan pada
pembelajaran, terlebih dahulu diadakan latihan kelompok. Hal ini bertujuan
untuk lebih meningkatkan kesolitan anggota dan saling mengenal satu sama
lainnya.
Adapun fase – fase pada tipe STAD ini adalah sebagai berikut:
a.
Fase Kegiatan guru
1)
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
2) Menyajikan /menyampaikan
informasi/materi Menyajikan informasi/materi kepada siswadengan jalan
mendemonstrasikan atau lewat bacaan
3)
Morganisasikan siswa
dalam kelompok belajar. Menjelaskan
kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4) Membimbing kelompok
bekerja dan belajar Membimbing kelompok–kelompok belahar pada saat mereka
menerjakan tugas mereka
5)
Evaaluasi Masing–masing
kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
6) Memberi penghargaan
Mencari cara untuk mengargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau
kelompok.
Penghargaan atas keberhasilan kelompok bias
dilakukan dengan langkah–langkah sebagai berikut :
a)
Menentukan skor individu
dengan cara diadakan kuis/ulangan harian
b)
Untuk skor kelompok
dihitung dengan cara menjumlahkan skor individu anggota kelompok lalu di bagi
dengan jumlah kelompok (rata–rata)
c)
Kelompok yang
mendapatkan rata–rata skor tertinggi, bisa diberi penghargaan dan atau
hadiah.
2. Numbered Head Together
(NHT)
NHT atau penomeran berpikir bersama
adalah merupakan jenis pembelajara kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi
pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap struktur kelas
tradisional. NHT dikembangkan pertama kali oleh Spenser Kagen pada tahun 1993. Pembelajaran NHT ini
mempunya empat fase yaitu:
a. Penomeran
Guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok Heterogen, tiap kelompok terdiri dari 4–5 orang dan kelompok diberi
nomor 1- 4 atau 1–5 (sesuai dengan jumlah anggota kelompok)
b.
Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada
siswa dan pertanyaan dapat bervariasi
c. Berfikir Bersama
Siswa menyatuka pendapat terhadap
jawaban pertanyaan itu dan memastikan bahwa tiap anggota kelompok mengetaui
jawaban dari tim.
d.
Menjawab
Guru memanggil suatu nomor
tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacngkan tangan untuk menjawab
pertanyaan untuk seluruh kelas.
3. Think Pair Share (TPS)
Strategi think pair share atau
berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif
yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi ini
dikembangkan oleh Frang lyman dan koleganya di Universitas Maryand. Fase–fase
pada strategi ini meliputi:
a. Berpikir
Guru mengajukan pertanyaan atau
permasalahan yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan
waktu beberapa menit untuk berpikir sendari jawabannya
b. Berpasangan
Guru meminta siswa untuk bepasangan
dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Secara normal siswa diberi
waktu 4–5 menit pada siswa untuk menyatukan, berdiskusi jawaban atas
permasalahan yang diaukan oleh guru.
c. Berbagi
Guru meminta pasangan–pasangan
untuk berbagi jawaban dengan siswa sekelas secara bergantian.
4. Jigsaw (Tim Ahli)
Jigsaw telah dikembangkan dan
diujicoba oleh Elliot Aroson dan teman–teman dari Universitas Texas dan
diadopsi oleh slavin dan teman teman dari Universitas John Hopkins. Fase–fase
penbelajaran jigsaw:
a. Siswa di bagi atas
beberapa kelompok heterogen (tiap kelompok anggotanya 5–6 orang)
b. Materi pelajaran
diberikan pada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi–bagi dalam beberapa
sub bab
c. Setiap anggota kelompok
membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d. Anggota dari kelompok
lain yang telah mepelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk
berdiskusi.
e. Setiap anggota kelompok
ahli setalah selesai berdiskusi maka kembali ke kelompok asal dan bertugas
untuk mengajari teman–teman kelompoknya
f. Pada pertemuan dan
diskusi kelompok asal, siswa di berikan kuis secara individu.
