Pembelajaran
aktif adalah belajar yang memperbanyak aktivitas siswa dalam mengakses berbagai
informasi dari berbagai sumber, untuk dibahas dalam proses pembelajaran dalam
kelas, sehingga memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah
pengetahuan, tapi juga kemampuan analisis dan sintesis (Rosyada dalam
Nurhayati, 2008). Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat, gesit,
menyenangkan, dan penuh gairah, bahkan siswa sering meninggalkan tempat duduk
untuk bergerak leluasa dan berfikir keras (moving
about and thinking aloud). Keaktifan siswa tidak hanya keaktifan fisik tapi
juga keaktifan mental. Belajar aktif sebagai suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang bermuara pada belajar mandiri, maka kegiatan belajar mengajar
yang dirancang harus mampu melibatkan siswa secara aktif. Siswa dan guru dalam
belajar aktif sama berperan untuk menciptakan suatu pengalaman belajar yang
bermakna.
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif adalah suatu metode belajar
yang mana siswa tidak hanya sekedar mendengarkan informasi yang disampaikan
oleh guru, akan tetapi siswa juga melihat apa yang dijelaskan oleh guru dan
terakhir siswa melakukan atau mencobakan langsung apa yang telah dipelajari
untuk memperoleh hasil belajar.
Secara harfiah active artinya: “in the habit of doing things, energetic” (Hornby, 1994), artinya
terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. Pembelajaran
aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua
siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual.
Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman
langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun
pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, siswa didorong untuk bertanggung jawab
terhadap proses belajarnya sendiri.
