Ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam melaksanakan metode
bermain peran yang dipadukan dengan metode ceramah. Langkah-langkah ini,
menurut Shatel & Shaftel dalam Syah (2008, 196-198), secara ringkas sebagai
berikut.
Pertama, memotivasi
kelompok-kelompok siswa yakni kelompok pemegang peran/pemain dan kelompok
penonton/pengamat. Dalam merangsang minat siswa terhadap kegiatan bermain
peran, guru perlu menawarkan masalah yang baik.
Kedua,
memilih pemeran (pemegang peranan/aktor). Pada tahap kedua ini, bersama-sama
para siswa, guru mendiskusikan gambaran karakter-karakter yang
akan diperankan. Seusai karakter-karakter ini disepakati, selanjut- nya guru
menawarkan peran-peran itu kepada siswa yang layak. Dalam hal ini guru dapat
juga menggunakan jasa satu atau dua orang siswa yang dianggap cakap untuk
memilih siswa-siswa yang pantas menjadi aktor "X", aktor
"Y", dan seterusnya.
Ketiga,
mempersiapkan pengamat. Dalam melangsungkan model bermain peran diperlukan
adanya pengamat yang diambil dari kalangan siswa sendiri. Pengamat ini
sebaiknya terlibat dalam cerita yang dimainkan. Agar seorang pengamat merasa
terlibat, ia perlu diberi penjelasan mengenai tugas-tugasnya. Tugas-tugas ini
meliputi:
1. menilai
tingkat kecocokan peran yang dimainkan dengan masalah yang sesungguhnya;
2. menilai
tingkat keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran;
3. menilai
tingkat penghayatan pemeran terhadap tokoh (peran yang dimainkan).
Keempat,
mempersiapkan tahapan peranan. Dalam bermain peran tidak diperlukan adanya
dialog-dialog khusus seperti dalam sinetron, sebab yang dibutuhkan para siswa
aktor itu adalah dorongan untuk berbicara dan bertindak secara kreatif dan
spontan. Walaupun begitu, garis besar adegan yang akan dimainkan perlu disusun
secara tertulis. Selanjutnya, sebagai pendukung suksesnya permainan, lokasi
tempat bermain peran seperti ruang kelas, aula, atau lapangan terbuka perlu
dilengkapi dengan sarana-sarana yang dibutuhkan oleh cerita yang hendak
dimainkan.
Kelima,
pemeranan. Setelah segala sesuatunya siap, mulailah para aktor memainkan peran
masing-masing secara spontan sesuai dengan garis-garis besar dan
tahapan-tahapan yang telah ditentukan. Berapa lama sebuah role playing
harus dimainkan? Jawabannya bergantung pada tingkat kompleksitas situasi
masalah yang diperankan.
Keenam,
diskusi dan evaluasi. Seusai semua peran dimainkan, diskusi dan evaluasi perlu
diadakan. Dalam hal ini guru bersama para aktor dan pengamat hendaknya
melakukan pertukaran pikiran dalam rangka menilai bagian-bagian peran tertentu
yang belum dimainkan secara sempurna.
Ketujuh,
pengulangan pemeranan. Dari diskusi dan evaluasi tadi biasanya akan muncul
gagasan baru mengenai alternatif-alternatif lain pemeranan.
Alternatif-alternatif ini kemudian digunakan untuk memainkan lagi topik cerita
bermain peran secara lebih baik. Dalam pengulangan peran dimungkinkan
berubahnya sebuah karakter peran yang berakibat berubahnya peran-peran
lainnya. Kejadian seperti ini bukan masalah, karena dalam kehidupan sehari-hari
hal-hal yang sama (perubahan itu) juga biasa terjadi di tengah-tengah
masyarakat.
Kedelapan, diskusi dan evaluasi ulang. Tahapan ini dimaksudkan
untuk mengkaji kembali hasil pemeranan ulang pada langkah ketujuh tadi. Diskusi
dan evaluasi pada tahap ini berlangsung seperti diskusi dan evaluasi pada tahap
keenam. Namun, dari diskusi dan evaluasi ulangan ini diharapkan akan muncul
strategi-strategi pemecahan masalah yang lebih inovatif dan kreatif. Dari
diskusi dan evaluasi ulangan ini juga diharapkan timbul kesepakatan yang bulat
mengenai strategi tertentu untuk memecahkan masalah yang tertuang dalam
permainan peran.
Kesembilan, membagi pengalaman dan menarik generalisasi. Tahapan
terakhir ini dilaksanakan untuk menarik faidah pokok yang terkandung dalam
bermain peran, yakni membantu para siswa memeroleh pengalaman-pengalaman baru
yang berharga melalui aktivitas interaksi dengan orang lain.
Pada
tahap ini siswa diharapkan saling mengemukakan pengalaman hidupnya bersama
orang lain, umpamanya orangtua dan tetangga di sekitarnya. Mungkin
pengalaman-pengalaman yang beraneka ragam itu dalam banyak segi tertentu
terdapat kesamaan yang dapat diambil sebagai standar generalisasi (pematokan
prinsip yang berlaku umum). Generalisasi, tentu tak harus menjadi sesuatu yang
berharga pasti, sebab hubungan antar manusia juga tak dapat dirumuskan dalam formula yang
100 % pasti.