Metode pembelajaran Multiple Intelligences memiliki relevansi dengan metode pembelajaran dalam pendidikan Islam terutama dengan kedua sumber utamanya al-Qur’an dan al-Hadith. Di dalam al-Qur’an maupun al-Haditsh banyak didapatkan metode-metode pembelajaran yang berbasis kecerdasan majemuk seperti metode cerita, ceramah, dialog dan membaca (kecerdasan linguistik). Bahkan ayat pertama yang turun berupa perintah membaca (al-Qur’an. 95: 1).
Metode yang lain adalah metode pembelajaran
berbasis matematis-logis seperti metode kuantifikasi, kalkulasi (al-Qur’an. 7:
142), pengelompokan (al-Qur’an. 22: 19), kelipatan (al-Qur’an. 8:65) dan
penalaran (al-Qur’an. 2: 23). Begitu pula dalam hadith, Rasulullah juga sering
menggunakan pendekatan matematis-logis dalam pembelajaran seperti hadis tentang
dua golongan yang tidak ditolak doanya. Hadith itu diawali dengan ithnan
(dua).
Bahkan pernah Rasulullah Saw. mengajar
menggunakan metode isyarat dan gambar sebagaimana terdapat dalam hadith tentang
dekatnya kelahiran Nabi dengan hari kiamat dan hadith tentang ajal serta
panjangnya angan-angan manusia. Metode isyarat dalam teori Multiple
Intelligences termasuk dalam rumpun kecerdasan kinestetik sedangan metode
menggambar masuk kategori kecerdasan visual spasial.
Metode musikal juga sering
ditemukan dalam al-Qur’an maupun al-Hadith seperti adanya kesamaan irama akhir
terutama di ayat-ayat Makkiyyah atau haditsh-haditsh yang mengandung doa
seperti doa Rasulullah Saw.
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu iman yang tidak berkurang, kenikmatan yang
tidak habis, dan menemani Nabi-Mu di surga Firdaus yang paling tinggi.”
Begitu
pula dengan metode pembelajaran interpersonal, intrapersonal dan naturalistik.
Multiple Intelligences
telah memberikan banyak pencerahan terhadap para praktisi pendidikan, orang tua
maupun pelajar. Pencerahan tidak saja menyentuh aspek-aspek pemikiran –yang
mungkin lebih bersifat teoritis- tentang macam-macam kecerdasan yang dapat
dikembangkan tapi juga menyentuh aspek metode pebelajaran yang lebih bersifat
praktis dan aplikatif.
Kendati demikian, konsep Multiple
Intelligences bukanlah sebuah kitab suci atau firman Tuhan yang bersifat
sakral dan tidak boleh dikritik. Sejauh analisis peneliti, setidaknya ada tiga
hal yang menjadi bahan kritik peneliti ketika menyandingkan metode pembelajaran
Multiple Intelligences dengan metode-metode pendidikan Islam. Ketiga hal
tersebut adalah pertama, teori Multiple Intelligences tidak
bermuara dari konsep yang utuh. Peneliti melihat konsep Multiple
Intelligences belum utuh di dalam mengembangkan unsur-unsur dasar yang
membentuk manusia. Unsur sosial dapat diwakili oleh kecerdasan intrapersonal
dan linguistik, unsur tubuh atau raga dapat diwakili oleh kecerdasan kinestetik,
unsur akal dapat diwakili oleh kecerdasan matematis-logis, namun unsur ruh
tidak dapat diwakili oleh kecerdasan manapun yang ditemukan Gardner, sehingga
kalau disimpulkan, Multiple Intelligences hanya dapat mengembangkan
potensi-potensi sosial, tubuh dan akal saja. Sedangkan potensi-potensi ruhiyah
belum mempunyai wadah pengembangan karena tidak satupun model kecerdasan yang
dapat mengembangkan potensi ruhiyah.
Kedua, karena adanya unsur penting yang terlupakan,
maka hal itu berimplikasi pada adanya beberapa metode penting yang tereduksi.
Perkembangan metode pembelajaran Multiple Intelligences belum menyentuh
beberapa metode pembelajaran yang ada dalam Islam seperti metode teladan,
metode taghrib dan tarhib, serta metode spiritual.
Ketiga, tidak adanya norma yang jelas dalam penggunaan
metode pembelajaran. Sebaliknya, pendidikan Islam sangat memperhatikan
norma-norma yang harus dijaga dalam pembelajaran. Pada saat guru menanamkan
konsep, maka suasana kelas hendaknya hening dan perhatian terpusat pada guru.
Rasulullah sebelum menyampaikan khutbahnya selalu mengingatkan murid-muridnya
untuk tenang. Peringatan itu tidak jarang diulang sampai berkali-kali.
Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan guru
dan mahasiswa. Terima kasih.
