Abdussakir
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistik telah mendominasi
pendidikan di Amerika Serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan
untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam
belajar kompetitif dan individualistik, guru menempatkan siswa terpisah dari
siswa yang lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, “Saya
ingin agar kamu bekerja sendiri” dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu
sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistik (Johnson
& Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu masih terjadi dalam pendidikan
di Indonesia sekarang ini.
(Slavin:
1995) dalam Abdussakir jika disusun dengan baik, belajar kompetitif dan
individualistik akan efektif dan merupakan cara memotivasi siswa untuk
melakukan yang terbaik. Meskipun demikian terdapat beberapa kelemahan pada
belajar kompetitif dan individualistik, yaitu:
1)
kompetisi siswa kadang tidak sehat,
sebagai contoh jika seorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain
berharap agar jawaban yang diberikan salah
2)
Siswa berkemampuan rendah akan kurang
termotivasi
3)
Siswa berkemampuan rendah akan sulit
untuk sukses dan semakin tertinggal.
4)
Siswa yang berkemampuan rendah akan
frustasi
Untuk
menghindari hal-hal tersebut dan agar siswa dapat membantu siswa yang lain
untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif. Belajar
kooperatif bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai guru dan mungkin sebagai siswa
kita pernah menggunakannya atau mengalaminya, sebagai contoh saat bekerja dalam
laboratorium. Ketika belajar di laboratorium kegiatan berkelompok seperti pada
pembelajaran kooperatif sering dilakukan. Sehingga sistem pembelajaran ini
tidak lagi terkesan asing.
Holli
Eggen dan Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai
sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu
dalam mempelajari sesuatu. Oleh karena itu belajar kooperatif ini juga
dinamakan “belajar teman sebaya.” Menurut Slavin (1997) pembelajaran kooperatif
merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki
kemampuan heterogen.
Pembelajaran
kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran, siswa
bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar.
Pembelajaran kooperatif memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi
akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena
siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki
hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan,
mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah
(Nur dan Wikandari (2000:25) dalam Holli.
Berdasarkan pendapat
dari para ahli diperoleh pengertian umum tentang Cooperative Learning yaitu
pada dasrnya pembelajaran kooperative merupakan suatu strategi pembelajaran
yang dirancang oleh guru dalam bentuk kelompok-kelompok belajar dimana dalam
tim tersebut siswa menyelesaikan tugas-tugas kelompok mencapai tujuan
pembelajaran.
